PojokNews

SINERGITAS JOKOWINOMICS DAN MA’RUF ECONOMIC DEMI KEMAJUAN INDONESIA

Oleh: DR.PosmaCenter

Sosok Ma’ruf Amin dikenal sebagai tokoh ulama utama Indonesia. Pemahaman ilmu keagamaannya mumpuni dan sangat dihormati berbagai pihak dan golongan, dari berbagai kalangan muslim maupun non muslim. Dipilihnya Bapak Kyai Ma’ruf oleh Bapak Jokowi bukan tanpa sebab, karena kemampuan sinergis dua tokoh bangsa ini dalam pemikiran ekonominya.

Pemikiran Jokowinomics melalui kebijakan perekonomian produksi atau kerja, kerja dan kerja yang memprioritaskan infrastruktur dan kemaritiman di seluruh wilayah Indonesia, kawasan terbelakang hingga perbatasan dari Sabang sampai Merauke dari Pulau Miangas sampai Pulau Rote, diharapkan dapat memberikan pemerataan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Pemikiran Jokowinomics bertemu dengan pemikiran Ma’ruf Economic yang sama-sama memiliki misi pemerataan kesejahteraan rakyat, yang tercantum juga dalam visi “Terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, berkepribadian, berlandaskan gotong royong” khususnya misi “pembangunan yang merata dan berkeadilan”.

Menyadari bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim yang sangat besar dan penduduk miskin yang masih banyak, diperlukan terobosan sebagai pemikiran ekonomi yang dianggap cocok dengan Indonesia agar kesejahteraan lebih merata. Ma’ruf Economic menawarkan suatu konsep skema pembangunan sebagai arus ekonomi baru untuk Indonesia.

Konsep ini dapat mengurangi sistem ekonomi liberal dengan trickle down effect yang diciptakan sejak era Soeharto, ternyata tidak terbukti sepenuhnya berdampak pada masyarakat ekonomi terbawah. Sekarang arus ekonomi ingin dibalik dari bawah ke atas (bottom up) dengan umat sebagai fokus dan motor utama pembangunan kesejahteraan bangsa. Pendekatan bottom up inilah yang disebut sebagai konsep era ekonomi baru di Indonesia. Ke depannya, ekonomi nasional harus ditopang oleh ekonomi umat, bukan hanya ditopang oleh segelintir konglomerat. Tujuannya adalah agar 40% masyarakat terbawah dapat merasakan kemajuan ekonomi untuk mewujudkan keadilan sosial yang lebih sejahtera dan lebih merata. Arus baru ekonomi ini tidak berarti membenturkan yang lemah dan yang kuat, tetapi membangun kolaborasi yang saling memperkuat dan menguntungkan.

Landasan ekonomi perlu kembali disusun berlandaskan Pancasila khususnya sila kelima. Dengan tujuan luhur menghilangkan berbagai disparitas, baik distribusi maupun pendapatan, diharapkan tidak ada kesenjangan antara pusat dan daerah, antara produk-produk lokal dan global sehingga tahun 2024 Indonesia bisa tinggal landas. Karena saat ini, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih lebih banyak disumbangkan oleh Pulau Jawa sekitar 58 persen, disusul kemudian oleh Sumatera 21 persen, Kalimantan 8 persen, Sulawesi 6 persen, kemudian Maluku dan Papua 2 persen, serta Bali dan Nusa Tenggara 3 persen. Disparitas spasial terus-menerus dikurangi oleh Jokowi dengan melakukan berbagai pembangunan infrastruktur di luar Jawa, tidak lagi Jawasentris, sehingga memberi banyak nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian di luar Jawa untuk dapat terus bergerak maju. Selain itu perlu disiapkan landasan yang kuat melalui kerjasama dengan berbagai pihak dalam mempertahankan stabilitas ekonomi nasional, terutama dalam meminimalisir dampak global.

Salah satu pemikiran yang dilontarkan Ma’ruf Amin untuk umat adalah, bagaimana dalam membina umat Islam sebagai mayoritas mendapatkan keadilan distribusi modal tanpa memberatkan APBN, seperti pemanfaat dana haji untuk ekonomi umat. Menurut Ma’ruf APBN itu adalah milik rakyat, bukan hanya umat Islam. Ma’ruf memberi ide inklusivisme keuangan bagi masyarakat agar semua umat bisa memiliki akses modal, seperti memanfaatkan lembaga Wakaf nasional, tidak seperti perbankan konvensional yang masih eksklusif dan sulit dijangkau masyarakat bawah. Ide ini sangat didukung Jokowi dan akan ditindaklanjuti sambil mensertifikasi tanah-tanah rakyat agar bisa digunakan sebagai akses permodalan.

Pemikiran-pemikiran terbaik dari Kyai Untuk Ma’ruf Amin ini perlu disosialisasikan kepada calon pemilih untuk Pemilihan Presiden 2019. Bukan hanya ketokohan sebagai ulama yang terutama, tetapi juga penggagas ekonomi syariah yang disegani.

IndonesiaMaju
#01JokowiSatuKaliLagi
#PosmaBelaJokowinomics

Comment here