PojokPolitik

SEBENARNYA, APA YANG KAU CARI?

 

Oleh Abdul Malik, Ketua Presidium AMBB

Terlihat sangat ngotot sekali ingin menggelar reuni 212. Sebenarnya apa yang kau cari, sich? Logika nalar saya memaksa berfikir, ini tentang kepentingan politik kelompok tertentu.

Loh, koq bisa? Iya dong. Coba aja simak dengan teliti. Untuk apa kegiatan demonstrasi dibungkus dengan balutan kata reunian. Masalah Ahok sudah tuntas. Semua prosesnya berjalan sesuai koridor hukum. Meskipun nalar saya pasti juga ada tekanan politik yang kuat sehingga Ahok harus mengalami badai politik yang dramatis. Loh, koq mau diperingati reunian segala. Memangnya ada apa lagi, sich?

Apa masih kurang puas atau merasa sudah menjadi tokoh hebat? Atau masih demam panggung sebagai tokoh umat? Jujur saja saya masih banyak pertanyaan yang menggelitik.

Sebagai orang dewasa dalam berpolitik tidak elok bermain dalam ranah sensifitas emosi keagamaan. Resikonya sangat rentan dan mudah menyulut emosi destruktif.

Mestinya, berpolitik dengan gagasan gagasan optimis, meyakinkan rakyat dengan kinerja, rasa optimis dan kesantunan yang menyentuh rakyat.

Bagi saya, agama adalah privasi. Hak individu seseorang yang diberi kebebasan oleh Tuhan dalam meyakininya. Saya sangat terinspirasi oleh ceramahnya Gus Muwafiq beberapa hari yang lalu ketika peringatan maulid Nabi Saw di istana Negara, bahwa di Indonesia tidak ada kafir. Karena semuanya sudah menjadi rakyat Indonesia.

Ceramah Gus Muwafiq sangat visioner bagi Bangsa Indonesia. Bahwa mestinya rakyat Indonesi terutama para tokoh tokohnya sudah berfikir melampaui sekat-sekat keagamaan formalistik yang menjadi penghalang bagi hubungan kemanusiaan kita sebagai bangsa Indonesia.

Hubungan keagamaan yang bersifat formalistik seringkali menjadi benturan dan gesekan horizontal yang memicu konflik sesama warga bangsa.

Sebagai muslim, saya juga berpendapat, Islam itu harus dimaknai sebagai jalan hidup yang memberikan rahmah dan kedamaian. Citra muslim haruslah tercermin dalam ucapan dan prilaku. Bukankah Nabi Muhammad Saw memberikan indikator orang beriman adalah ketika tetangganya merasa aman bersamanya?

Disinilah saya kesulitan memahami logika logika kaum reaksioner yang sangat demen menampilkan semangat keagamaan formalistik.

Saya jadi teringat jorgon yang pernah diucapkan oleh Cak Nur, Islam Yes Partai Islam No menemukan relevansinya lagi zaman now.

Comment here