PojokPolitik

BELAJARLAH DARI MALUKU, HILANGKAN RADIKALISME “KATONG BASUDARA”

Oleh DR.PosmaCenter

Garrett Hardin, dalam tulisannya yang banyak menjadi acuan peraih nobel menyatakan, yang menjadi sumber masalah dalam kehidupan adalah pemahaman mengenai makna kebebasan. Pada umumnya kebebasan diartikan sebagai hak untuk melakukan apa saja sesuka hati. Hal inilah yang turut menjadi pemicu munculnya banyak masalah yang merugikan banyak pihak.

Egoisme Eropa menyebabkan kerusakan sendi-sendi kehidupan sehingga hampir terjadi tragedi di sana ketika dimulainya revolusi industri. Masyarakat tadinya belum merasa memiliki, menyebabkan banyak kerusakan lingkungan akibat industrialisasi ini. Di Amerika, kesadaran rakyat bahwa mereka adalah sebagai satu negara mulai muncul ketika terhenyak melihat hancurnya Pearl Harbour oleh Jepang. Akhir-akhir ini kejadian sungguh mengenaskan bagi umat manusia dialami oleh Suriah.

Hardin menuliskan ketika masyarakat tidak mempunyai rasa kepemilikan disitulah tragedi mulai sedikit demi sedikit terbangun yang dikenal sebagai “tragedy of common”.

Maluku pernah merasakan tragedi itu. Ketika saya melakukan penelitian mengenai perbatasan di Maluku-Timor Leste, kesan yang saya dapatkan adalah daerah dengan rasa yang aman tentram damai dan penuh sukacita. Pantaslah wilayah ini memiliki indeks kebahagiaan tertinggi di Republik ini.

Saya di Ambon tidak merasakan sisa kepedihan yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun di sana. Tetapi cerita mengenai tragedi tersebut tidak pernah lenyap dari pikiran mereka karena selalu muncul dari setiap percakapan saya dengan masyarakat di sana.

“Kami tidak ingin konflik lagi bapak, kami mau damai saja, enak toh seperti ini, kemana-mana tidak takut, jalan malam pun tidak apa-apa. Begitu mengerikan ketika kami terbelah dua, perang membela agama bertahun tahun kami alami memakan banyak korban jiwa. Anak anak tidak bisa bersekolah dan kami harus berjalan jauh memutar agar tidak melewati daerah lawan. Kami sadar itu akibat provokasi dan hoax yang kami telan bulat-bulat tanpa berpikir panjang. Padahal “katong basudara”.

Untung kami memiliki adat “pela gandong”, dari rasa basudara itu kami berdamai. Mesjid kembali dibangun oleh bantuan umat Kristen, gereja juga dibangun oleh bantuan umat Muslim. Katong basudara, dan kami tidak mau ada konflik lagi di tanah Maluku. Kami ingin menularkan rasa damai ini ke seluruh Indonesia negeri kami, perang dengan saudara itu sungguh-sungguh tidak enak. Sungguh luar biasa nikmat yang kami rasakan dari Tuhan atas perdamaian yang kami rasakan di Ambon ini.

Demikianlah rasa memiliki itu, bahwa Ambon adalah milik semua orang, bukan punya satu kelompok pun. Hardin menyatakan bahwa jika tidak ada rasa memiliki akan menggali kubur bagi tragedi kita sendiri. Karena itu rasa memiliki bangsa ini atau yang kita sebut rasa NASIONALISME perlu kita tanamkan di dada ini untuk seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali.

Jangan terkotak-kotak. “KATONG BASUDARA”

#IndonesiaMaju
#01JokowiSatuKaliLagi
#PosmaBelaJokowinomics

Comment here